Indosiar Ditegur KPI Karena Agnes Monica Bajunya Seksi saat Bernyanyi

Written by on Jan 22, 2016 -

Intstagram LinkInstagram

Baju Seksi Agnes MonicaAgnes Monica / Liputan6

Puncak perayaan ulang tahun Indosiar ke-21 yang dikemas dalam acara Konser Raya 21 Tahun Indosiar beberapa waktu lalu mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pakaian Agnes Monica, salah satu pengisi acara konser tersebut, dinilai terlalu vulgar untuk ditayangkan.

“Program tersebut menampilkan Agnes Monica dengan mengenakan pakaian transparan yang mengekspose bagian tubuhnya. KPI Pusat menilai muatan tersebut tidak tepat untuk ditayangkan dengan pertimbangan norma dan budaya yang berlaku masyarakat Indonesia,” demikian tertulis dalam surat teguran KPI tertanggal 19 Januari 2016.

Dalam surat bernomor /K/KPI/01/16 itu, KPI meminta Indosiar untuk melakukan evaluasi internal agar tayangan yang bermaterikan konten serupa tidak tayang di kemdudian hari. Indosiar diminta untuk selalu memperhatikan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 dalam setiap tayangannya.

“Berdasarkan hal tersebut, KPI Pusat memutuskan memberikan peringatan agar saudara melakukan evaluasi internal atas program ini. Saudara wajib menjadikan P3 dan SPS KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam penayangan sebuah program siaran. Demikian peringatan ini kami sampaikan. Terima kasih,” lanjut teguran tersebut, dikutip dari web resmi KPI, Jumat, 22 Januari 2016.

Seperti diketahui, 11 Januari 2016 lalu, Agnes Monica menjadi perbincangan hangat di masyarakat karena pakaian yang dia kenakan saat mentas di Konser Raya 21 Tahun Indosiar transparan di bagian dada, perut dan paha. Tak hanya itu saja, pada bagian bawah pakaian transparan yang dia kenakan terdapat tulisan Arab berbunyi “al muttahidah” yang berarti persatuan.

Meski sempat dikecam dan dinilai melecehkan agama Islam, namun Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, menilai tulisan arab yang ada di baju Agnes bukan termasuk dalam perbuatan penistaan agama karena bukan merupakan penggalan ayat Al-Quran.

“Bahasa Arab kan tidak berarti bahasa Al-Quran. Kalau dia hanya gunakan bahasa ‘al-muttahidah’. Yang tidak boleh itu huruf Arab bacaan Al-Qur’an. Kalau tulisan Arab kan kayak tulisan biasa. Yang kedua, kan tidak ada unsur pelecehannya di situ. Lumrah saja,” kata Cholil Nafis.

Related Posts.

Leave a Reply

Back to top ↑